Kemunduran dalam organisasi dakwah jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia hadir perlahan, melalui indikasi-indikasi kecil yang sering kali diabaikan atau dianggap wajar. Aktivitas masih berjalan, struktur masih berdiri, namun sejatinya ruh dakwah mulai melemah.
Tanda-tanda ini tidak selalu tampak sebagai penyimpangan prinsip, melainkan lebih sering muncul dalam bentuk kelelahan, kesalahpahaman, dan retaknya kepercayaan antarsesama. Sampai akhirnya tanpa disadari, sudah banyak yang keluar dari barisan. Keluar bukan karena menolak kebenaran, tetapi karena tidak lagi menemukan keteduhan dan kejelasan arah. Maka membaca tanda-tanda kemunduran ini menjadi sebuah keharusan, agar organisasi dakwah tidak terlambat menyadari bahwa yang melemah bukan sekadar aktivitasnya, melainkan fondasi jamaah itu sendiri.
Indikasi yang pertama, kaderisasi tidak lagi berjalan sebagai proses jangka panjang yang terencana, melainkan bergantung pada figur-figur tertentu. Bahayanya, ketika figur ini tumbang, wafat, atau tersingkir, maka dakwah pun ikut meredup. Organisasi dakwah yang sehat seharusnya melahirkan kader, bukan sekadar tokoh; melahirkan sistem, bukan sekadar semangat. Sebaliknya, dengan perencanaan kaderisasi yang berlapis akan memastikan nilai, visi, dan arah perjuangan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian peran dan generasi.
Aktivis yang muncul bukan dari proses kaderisasi yang seharusnya, hanya melahirkan percikan sesaat yang mudah padam. Berbeda dengan kader yang lahir dari proses pembinaan ruhiyah yang konsisten dan terstruktur akan memiliki kejelasan sikap, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta loyalitas pada prinsip, bukan pada individu. Inilah tanda kematangan organisasi dakwah: ketika perjuangan tidak bergantung pada siapa yang memimpin, melainkan pada nilai dan prinsip yang disepakati bersama.
Tanpa kaderisasi yang sistematis, organisasi hanya akan berumur sepanjang usia figur-figurnya. Sedangkan kita dituntut untuk menjadi pemimpin sekaligus memberikan petunjuk.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berikan ilmu dan hikmah kepada Nabi Musa, agar ia menjadi pemimpin dan petunjuk bagi kaumnya.” (Al-Qasas: 5)
Indikasi yang kedua, banyaknya perbedaan pandangan yang tak terselesaikan secara tuntas. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi pertukaran gagasan, sangat mungkin berubah menjadi sumber permusuhan. Biasanya ini disebabkan karena absennya otoritas moral dan struktural yang dapat dihormati bersama. Yakni pemimpin yang mampu mendudukkan berbagai pandangan dalam forum musyawarah, sekaligus tegas mengambil keputusan saat perbedaan tak terhindarkan.
Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, organisasi akan kehilangan arah dan langkah bersama, karena lahir kelompok-kelompok kecil yang berjalan sendiri-sendiri di dalam tubuh organisasi, mereka lebih sibuk saling mengoreksi, daripada bersama-sama menghadapi persoalan umat yang jauh lebih besar.
Dan patut saya tegaskan kembali, masalahnya bukan pada banyaknya perbedaan, melainkan pada ketidakmampuan organisasi mengelolanya secara dewasa dan tuntas.
“…urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38)
Saya teringat pada sebuah organisasi yang tercerai-berai hanya karena ketidakcocokan dengan pengurus lain. Perselisihan yang semula bersifat teknis berubah menjadi sikap permusuhan, jika ditinjau secara menyeluruh, banyak dari peristiwa tersebut bukanlah akibat penyimpangan manhaj atau pelanggaran syariat, melainkan bersumber dari masalah-masalah pribadi, dinamika internal, serta tekanan situasi dan kondisi.
Seandainya masing-masing pihak bersedia menahan diri dan mengalah demi maslahat yang lebih besar, niscaya keadaan dapat pulih dan perjuangan kembali ke jalur yang benar. Inilah langkah preventif yang paling awal.
Karena kemunduran organisasi dakwah pasti akan dibayar mahal dengan hilangnya kader terbaik, terputusnya mata rantai perjuangan, melemahnya perjuangan Islam di masyarakat, serta tersia-siakannya potensi umat.
Akhir kata, marilah kita luruskan niat kita kembali kepada Allah, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan meneguhkan bahwa kepada-Nyalah seluruh perjalanan dakwah ini bermuara.
Oleh: Azmi, Ketua Dept. Ekonomi DPW Wahdah Islamiyah Kalimantan Barat