𝐌enjawab Tarbiyah Yang Digugat

DPW WI Kalbar
9 Min Read

Tarbiyah biasanya adalah istilah yang diidentikkan kepada kelompok haroki, yaitu sebuah sistem/pola belajar dan pembinaan ilmu agama serta adab/akhlak secara berkelompok (halaqoh), berjenjang-bertingkat (tadarruj-marhalah) ,dengan silabus materi, serta ada murobbi sebagai pemateri sekaligus pembinanya dan mutarobbi sebagai murid binaan.

Tadarruj (berjenjang/berproses) sendiri merupakan bagian dari sunnatullah, baik sunnatullah yang sifatnya kauniyah seperti proses penciptaan alam semesta,proses kejadian manusia sejak dalam kandungan hingga besar, maupun sunnatullah yang sifatnya syar’iyah seperti turunnya Al quran,pengharaman khamer,pensyariatan puasa dll.
Terkhusus dalam belajar, tadarruj sudah menjadi hal yang paten diterapkan dalam sebuah instansi pendidikan perguruan tinggi,sekolah ataupun pondok pesantren. Dan ia juga merupakan warisan dari para ulama dalam menuntut dan mempelajari ilmu syar’i.


Hal ini bahkan disebutkan dalam Al quran,

Artinya: “Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani karena kalian selalu mengajarkan alkitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya.” (QS Ali ‘Imran: 79).


Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab shohihnya menyebutkan diantara makna “Rabbani” yang disebutkan ulama ialah :
الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره
Artinya: “Rabbani adalah orang yang mentarbiyah (mengajar dan membina) manusia dari ilmu yang ringan sebelum ilmu yang berat”. [ Fathu albari,Bab.Ilmu sebelum berucap dan beramal, 1/219 ]

Syaikh Sholeh bin Utsaimin tatkala menjelaskan makna “Rabbani” pada matan Aqidah safariniyyah bait 15,berkata ;

15- حبر الملا فرد العلا الرباني
فالتربية العلمية، قال العلماء رحمهم الله: معناها: أن يربي الطلبة بصغير العلم قبل كبيره، فإن هذا من التربية العلمية، فلا يأتي للطالب المبتدئ مثلا ويقول له: اقرأ قواعد ابن رجب، فإنه إذا قرأ الطالب المبتدئ قواعد ابن رجب فإنه لا يفهم أبداً، ولكن يربيه بصغار العلم، فيأتي مثلا بكتاب مختصر ومبسط وتدرج به شيئا فشيئاً.
ففي النحو مثلا؛ إذا كان لا يعرف منه شيئا، فلا بد أن تربيه وتبدأ بأصغر كتب النحو حتى يترقى شيئا فشيئا، وفي أصول الفقه كذلك، وفي كل
العلوم ينبغي أن يرقى الطالب درجة، أما أن تقفز به من أسفل درجة لأعلى درجة فهذا لا يمكن، وربما يكون في ذلك ضرر كبير عليه،

Adapun Tarbiyah ilmiah, para ulama -semoga Allah merahmati mereka- berkata: Maknanya adalah: mendidik penuntut ilmu dengan ilmu-ilmu kecil (dasar) sebelum ilmu-ilmu besar, sesungguhnya ini termasuk tarbiyah ilmiah. Maka, janganlah mendatangi seorang penuntut ilmu pemula misalnya, dan berkata kepadanya : bacalah Kaidah Ibnu Rajab, karena jika seorang pemula membaca kaidah Ibnu Rajab dia tidak akan pernah mengerti selamanya. Akan tetapi didiklah dia dengan ilmu-ilmu kecil, dia datang misalnya dengan kitab yang ringkas dan sederhana, lalu mempelajarinya sedikit demi sedikit. Dalam ilmu nahwu misalnya, jika ia tidak tahu apa-apa, anda harus mendidiknya dan memulai dengan buku-buku nahwu terkecil hingga dia naik tingkat secara bertahap. Demikian pula pada ilmu ushul fiqh dan dalam berbagai disiplin ilmu lainnya, hendaklah seorang penunutut ilmu naik satu tingkat. Adapun langsung melompat dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi itu tidaklah mungkin, dan bisa jadi akan menimbulkan mudarat besar baginya. [ Syarh Al Aqidah Assafariniyyah, hal.80-81 ]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri dalam mengajarkan Al quran dan maknanya kepada para sahabatnya radhiyallahu anhum juga dilakukan secara bertahap, sepuluh ayat kemudian sepuluh ayat berikutnya [HR.Ahmad]. Demikian pula tatkala beliau memerintahkan kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu untuk mengajarkan islam kepada penduduk yaman juga secara bertahap,dimulai Syahadat,lalu Sholat,kemudian Zakat. [Shohih Bukhori]

Adapun ia sebagai metode belajar dan mengajar yang diwariskan oleh para ulama salaf, disebutkan oleh Imam Ibnu Abdi albarr rahimahullah,di awal bab “Rutabu atthalabi wa kasyfi al mazhab”,beliau berkata: “Menuntut ilmu itu memiliki jenjang, tingkatan dan urutan yang tidak boleh dilampaui begitu saja. Siapa yang melampauinya secara keseluruhan (tidak berjenjang) maka dia telah menyelisihi metode para salaf rahimahumullah. Dan siapa yang menyelisihi mereka dengan sengaja maka dia telah tersesat, dan siapa yang menyelisihinya melalui ijtihad/pandangan pribadinya maka dia telah tergelincir.” [Jami’ bayani al ilmi wa fadhlihi, hal.396]

Tarbiyah Ilmu rahasia, bisik bisik ..??

Mengkhususkan suatu ilmu untuk diajarkan kepada orang tertentu dan bukan kepada yang lainnya juga merupakan bagian daripada cakupan makna tarbiyah dan tadarruj itu sendiri. Dan tidak ada yang salah dengannya bahkan termasuk hal yang dianjurkan dalam menyampaikan ilmu.


Imam Bukhori dalam kitab shohihnya membuat judul bab dalam Kitab Al ilmu ;

باب من خص بالعلم قوما دون قوم كراهية أن لا يفهموا
“Bab Siapa yang mengkhususkan ilmu kepada sebagian kaum tanpa kaum lainnya karena khawatir mereka tidak memahami”

Kemudian setelahnya membawakan atsar dari Ali bin abi thalib radhiyallahu anhu berikut,

حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون أن يكذب الله ورسوله
“Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

Lalu hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Muadz bin Jabal yang menyebutkan keutamaan orang yang bertauhid,kemudian Muadz meminta izin untuk menyampaikannya kepada manusia, namun Nabi melarangnya saat itu karena khawatir manusia akan bertawakkal dengan itu saja (mencukupkan diri dengan tauhid tanpa beramal).


Imam Ibnu hajar Al asqalani menjelaskannya dengan berkata ; awalnya Muadz bin Jabal memahami bahwa larangan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mengabarkan hal tersebut adalah larangan mengabarkannya secara umum kepada manusia,kemudian dia bersegera sebelum wafatnya mengabarkannya secara khusus kepada orang orang tertentu. [ Fathu albari,1/314 ]

Dari sini kemudian jelas kekeliruan seseorang yang mengingkari tarbiyah islamiyah, juga menunjukkan kemungkian bahwa dia tidak pernah menempuh metode tersebut dalam menuntut ilmu.


Bagaimana mungkin materi ilmu yang hanya cocok diajarkan dan bisa dikonsumsi oleh seorang pelajar yang berada pada level tinggi itu diajarkan kepada pelajar level bawahnya, kemudian itu dianggap ilmu rahasia dan bisik bisik, kemana nalar berpikirnya ?!

Lantas bagaimana dengan ucapan Umar bin abdul azis rahimahullah yang dikutip diawal video ?

Teks valid ucapan Umar bin abdul azis ialah,

إذا رأيت قوما يتناجون في دينهم بشيء دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلالة
“Jika engkau melihat suatu kaum saling berbisik bisik di dalam urusan agama mereka tanpa diketahui umum, maka ketahuilah bahwa mereka sedang membangun kesesatan”

Diantara ulama yang menukil ucapan ini dalam kitab mereka ialah ;

  • Imam Ibnu aljauzy dalam “Talbis iblis” [hal.103], pada Bab.5 : Tentang talbis iblis dalam masalah Aqidah dan agama.
    Beliau menyebutkan ucapan Umar bin abdul azis tersebut setelah sebelumnya diawal membahas tentang sekte sekte menyimpang yang datang dengan pendapat pendapat baru dalam Aqidah yang tidak dikenal sebelumnya pada era salafus sholeh,seperti paham mujassimah yang mengatakan Allah berfisik dan sekte muktazilah-lafdziyah berupa keyakinan Al qur’an adalah makhluk (bukan kalam Allah).
  • Imam Abu al qasim Allalakai dalam “Syarhu ushuli i’tiqad ahlis sunnah” [1/106] dalam pasal ; Riwayat riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang melarang untuk berdiskusi dengan ahlul bid’ah,berdebat dan berbicara dengan mereka,serta mendengarkan ucapan ucapan baru mereka dan pendapat pendapat busuk mereka.
  • Imam Ibnu abdi albarr dalam “Jami’ bayani alilmi wa fadhlihi” [hal.311], bab ; dibencinya diskusi,debat dan bantah bantahan tentang (ayat ayat) Al qur’an.

Bisa disimpulkan bahwa ucapan Umar bin abdul azis tersebut hakikatnya lebih tepat ditujukan kepada pendapat pendapat baru dalam Aqidah seperti yang dimunculkan oleh sekte sekte sesat dan menyimpang, dimana awalnya mereka sebarkan secara sembunyi sembunyi atau mungkin bisik bisik.


Dan sangat tidak tepat,tidak nyambung dan terkesan dipaksakan ucapan Umar bin abdul azis itu ditujukan kepada kelompok tertentu (haroki) dengan tarbiyah islamiyahnya, sehingga harus berhati hati darinya dan harus dijauhi.
Sebagaimana perkataan masyhur,

“كلمة حق اريد بها باطل”

(“Kalimat yang haq namun dimaksudkan batil”),

begitu banyak ucapan ulama yang haq namun diselewengkan kepada kebatilan karena hawa nafsu penukilnya dan tendensi terselubungnya.


~ Wallahul musta’an ~

(Sumber: FB. Abu Yazid Zahid)

Share This Article