Bukti Penjagaan Allah Terhadap Al-Qur’an

DPW WI Kalbar
5 Min Read

Karena penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, maka Al-Qur’an tetap dalam keasliannya. Ia tetap kokoh berdiri, kemuliaannya tak terkontaminasi oleh segala cela. Setiap usaha untuk merubah satu huruf saja darinya, selalu berakhir pada kegagalan.

Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Al-Qur’an mencakup penjagaan-Nya dari kerusakan dan penjagaan-Nya dari tambahan ataupun pengurangan di dalamnya, dengan cara memudahkan penyampaiannya dengan cara mutawatir dan semua jalan yang dapat mengantarkan ke sana. Juga menyelamatkannya dari segala bentuk penyimpangan dan perubahan, hingga umat Islam dapat menjaganya dalam hafalan mereka sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan jumlah orang yang hafal Al-Qur’an mencapai jumlah mutawatir pada setiap tempat.

Al-Qadhi ‘Iyadh dalam al-Madarik menuturkan: bahwasanya al-Qadhi Ismail bin Ishaq bin Hammad al-Maliky al-Bashry pernah ditanya tentang rahasia terjadinya perubahan pada kitab-kitab terdahulu dan terbebasnya Al-Qur’an dari segala bentuk perubahan. Ia menjawab bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan mandat kepada para rahib untuk menjaga kitab-kitab mereka sebagaimana firman-Nya:

“Disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah.” (Q.S. Al-Maidah: 44)

Sedangkan Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjaganya, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjaga kitab-Nya yang mulia terbukti ketika sebagian orang berupaya memasukkan sesuatu yang bukan darinya. Mereka berusaha mengubahnya melalui satu celah yang mereka lihat sangat dekat di hati setiap muslim, yaitu pengagungan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencermati firman Allah Ta’ala:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.S. Al-Fath: 29)

Lalu mereka menambahkan pada ayat di atas satu kalimat, yaitu “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Kemudian mereka mencetak mushaf yang telah ditambah ayatnya itu sehingga berbunyi:

Mereka maksudkan untuk mencuri simpati hati kaum muslimin. Tetapi para ulama ketika membaca mushaf tersebut memerintahkan untuk membakarnya seraya berkata:

“Sesungguhnya pada ayat ini telah terjadi penambahan.”

Orang yang mencetak mushaf itu berkata:

“Tetapi bukankah tambahannya itu adalah kalimat yang kalian cintai dan hormati?”

Para ulama menjawab:

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu tauqifiy (tiada ruang untuk berijtihad), kami membaca dan mencetaknya sebagaimana ia diturunkan.” (Tafsir al-Sya’rawy (12/7653) )

Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan untuk Al-Qur’an situasi dan kondisi yang berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya, di antaranya adalah:

  1. Menyiapkan umat yang kuat dalam ingatan dan hafalannya.
    Generasi bangsa Arab pertama pada masa jahiliyah terkenal dengan kekuatan hafalannya. Mereka mampu meriwayatkan ribuan bait syair tanpa dibukukan, hanya mengandalkan hafalan.
  2. Memudahkan manusia untuk menghafal Al-Qur’an.
    Sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar: 17)
  3. Menyiapkan umat yang konsisten dan kapabel untuk menghafal, memahami, dan memikul amanah ini.
    Para huffazh menghafalnya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hafalan mereka benar-benar kuat. Kemudian mereka mencatatnya, dan Rasulullah sendiri memeriksanya.
  4. Memberi kesempatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecek hafalannya di langit.
    Jibril ‘Alaihissalam mengoreksi hafalan beliau sekali dalam setahun. Di tahun terakhir kehidupan beliau, Jibril mengoreksi seluruh hafalan beliau dua kali.
  5. Setelah Al-Qur’an rampung dicatat, tidak ada lagi kesempatan untuk bermain-main dengan isinya. Para huffazh mengoreksi setiap eksemplar mushaf dengan teliti. Ketika mushaf dicetak oleh percetakan tertentu, dibentuklah lajnah (panitia) khusus yang terdiri dari para huffazh senior di dunia Islam untuk mengoreksi setiap hurufnya sebelum diizinkan dicetak.

Dengan metode ini terwujudlah pemeliharaan Al-Qur’an al-‘Azhim yang telah digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menepati janji-Nya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)

Penjagaan Al-Qur’an ini menjadi bukti paling terang mengenai keagungan Al-Qur’an al-Karim.

Di antara dampak penjagaan ini adalah:

  1. Memutus obsesi musuh-musuh Islam untuk merubah Al-Qur’an.
  2. Kaum muslimin dapat merasakan nikmat penjagaan ini dan memiliki kepercayaan sempurna, terbebas dari keraguan yang menyelimuti hati selain mereka.

Sumber: Rahasia Keagungan Al-Qur’an – oleh Prof. Dr. Mahmud bin Ahmad bin Shalih al-Dausary

Share This Article